Category: Industry


The man on the right place…

Itu kira2 yg ada dalam imajinasi saya kalau seseorang bisa menempatkan diri pada situasi dimana keadaan membutuhkan dia dan dia sigap bisa menyelesaikan masalah sesuai harapan semua pihak.
Banyak kita yg terbelenggu dengan prosedur yg berbelit-belit,yg sebenarnya bisa diselesaikan dengan mencari simpul permasalahan yg jadi penyebab suatu masalah tidak terselesaikan.
System dirancang sebenarnya untuk memudahkan dan memperjelas semua prosedur kerja.Bukan untuk menghambat pekerjaan atau menghambat penyelesaian suatu masalah. Ini terutama banyak kita jumpai diperusahaan-perusahaan yg sdh cukup mapan.
Tapi tak bisa dipungkiri sebaik apapun system berhasil dan tidaknya suatu system tak lepas dari kesadaran para managernya untuk melaksanakannya dengan benar. Tanpa menjujung tinggi kesadaran melaksanakan system dengan benar…maka yg ada dilapangan hanya tampak egoisme pribadi masing2 personilnya yg tak mampu menahan diri untuk saling menunjukkan kekuatan taring nya sebagai pengambil keputusan.
Dalam suatu structure management yg begitu complex hanya top management yg piawai saja bisa menyadari keadaan yg terjadi dilapangan……tidak berjalannya system dengan benar dan perseteruan antara manager yg dibiarkan berlarut-larut akan menghambat produktifitas dan effesiensi pabrik/perusahaan.
Keberhasilan seorang top management akan terlihat dari komentar para pekerjanya, mulai dari level bawah sampai menengah. Karena yg merasakan situasi dan iklim kerja secara keseluruhan adalah para pelaksana lapangan.
Minute meeting atau sejenisnya hanya ajang kumpul2 saja kalau tidak bisa menyelesaikan masalah dilapangan. Coba dengar suara akar rumput dilapangan…apa isue yg paling besar di perusahaan? itulah yg harus diselesaikan.
Top management ibarat pelumas yg bisa memperlancar putaran roda2(para staf dan pekerja) yg saling terhubung dan harus berputar syncron sesuai keinginan policy perusahaan.
Tak perduli siapapun anda dan lulusan apapun…keberhasilan kepemimpinan bisa dilihat dari kepuasan semua pelaksana kerja dan owner juga tentunya.
Sebagai sosok yg bertanggung jawab dipekerjaan…….selayaknya kita semua bertanya pada diri sendiri….apakah posisi dan tanggung jawab kita sudah kita lakukan dengan benar?

Produsen PP Cup Indonesia

PT.UNIPLASTINDO INTERBUANA .
Bekasi International Industrial Estate
Jl. Raya Industri C 6 No. 1
Lippo Cikarang – 17550
BEKASI

PT.INDAHCUP SUKSES MAKMUR.
Jl. Yos Sudarso Kav. 85 (Sunter)
Jakarta – 14350
Factory
Jl. Raya Cileungsi KM. 7.5
Ds. Klapa Nunggal
Cileungsi Bogor-16820

PT.INDOCERIA PLASTIK & PRINTING
Jl. Raya Buduran 99
Sidoarjo – 61252

PT.SUMBER AJI LANGGENG SANTOSO
Office
Jl. Krekot Bunder IV No. 40
Jakarta Pusat – 10710

Factory :
Jl. Candi Blok 8 No. 11
Kawasan Industry Candi
Gatot Subroto, Semarang

PT. SURYASUKSES ABADI PRIMA
Thermoforming Cup & PET Bottle
Jl. Kertajaya 109
Surabaya
Plant :
Ds. Wedi Kec. Gedangan
Sidoarjo

PT. AGRONESIA Divisi Industri Plastik
Jl. Jakarta No. 40
Bandung – 40117

PT.ASABA PRIMA MAKMUR
Jl. Daan Mogot Km. 13.8
Cengkareng Timur – 11730

Factory :
Jl. Raya Serang KM. 16.8
Ds. Telaga Cikupa
Tangerang

PT.AKA PRIMA
Factory – Bogor
Jl. Raya Jakarta Bogor KM. 48, Rt. 04 Rw. 02
Kel. Nangewer, Kec. Cibinong
BOGOR – 16912

PT.Sinar Taman Plastindo
Factory :jalan raya surabaya – malang km 53 pandaan
Marketing : greges jaya 2/d-5 surabaya
Telepon : 031 7491048
No hp :08155550689
Merk cup : HOK

Complicated….itulah kadang yg dijumpai dilapangan. Irama kerja yg tidak sinkron dan emosi yg tidak bisa dikendalikan akan membuat seseorang jadi stress berkepanjangan. 

Kalau kita diposisi decision maker…..maka tugas pertama seharusnya membuat suasana kerja nyaman dan harmonis satu sama lain. Tapi kalau kita pada posisi yg naggung maka ketidak jelasan suatu kebijaksanaan akan membuat benturan2 sesama level atau dengan level diatas kita.

Kadang sebuah manajemen membuat suatu diskriminasi antara level lapangan dan level staf kantoran….artinya ada pengelompokan antara staf yg hanya kerjanya diatas meja tok…dan staf yg banting tulang dilapangan menuntaskan segala permasalahan berat di mesin/produksi. 

Akhirnya….manajemen seperti ini akan memunculkan perasaan diskriminasi dan akan membuat gap yg seharus nya tidak boleh ada dalam suatu perusahaan. Makanya seorang manager yg baik seharusnya bisa menyatukan staf administratif dan staf produksi/lapangan…juga berfikir bijak dalam mengambil keputusan..menjaga hati para stafnya, bertindak layaknya orang tua yg adil pada semua stafnya.

Manager yg tidak mau tahu itu semua paling cocok untuk memegang perusahaan yg full robot. Tidak perlu memikirkan like atau dislike…

The wisdom manager akan membawa perusahaan yg dipimpinnya layak nya kelompok orchestra yg membawakan music yg penuh harmony….tidak ada nada sumbang…atau nada falsh yg dikeluarkan oleh para staf ya….karena rule yg dipakai adalah jelas.

Para manager sebagai kumpulan pribadi yg masing2 punya ambisi selayaknya juga tidak boleh egois…kalau ingin harmony yg bagus maka kekompakan tenggang rasa perlu dijunjung tinggi. Menciptakan suasana like and dislike antara staf akan memperburuk performa perusahaan.

Contohlah perusahaan2 negara maju seperti Jepang. Yg bisa menciptakan motto kerja yg senada…..punya system management seperti Kaizen yg terkenal itu. Tidak ada exploitasi manusia atas manusia sebagai karyawan (ini hanya dimiliki oleh sistem feodal/penjajah)…malah menciptakan system kerja yg baik, harmonis dan nyaman bagi staf dilapangan…coffe break 2 kali dalam sehari masih merupakan mimpi bagi karyawan di Indonesia….tapi tidak bagi mereka yg kerja di perusahaan Jepang.

Kalau para manager sebagai orang yg dianggap “pintar”…seharusnya bukan effesiensi saja yg menjadi target….kesejahteraan dan kekompakan team kerja yg harus juga dibina.( Dari pengalaman saya…pernah juga saya jumpai manager2 bagus yg sangat perduli dengan segala hal…memperlakukan semua staf secara layak dan baik)

Manager bijaksana kah anda?

Who care? itu mungkin bagi yg sinis dengan pertanyaan diatas. Tapi bagaimanapun juga kita yg mengaku sebagai Manager tak akan bisa sukses tanpa orang lain….tanpa staf yg loyal terhadap anda. Tanpa dukungan dan keringat mereka kita bukan apa2…kita hanya seonggok daging hidup dengan seabrek mimpi. Justru staf anda yg bisa membantu terciptanya mimpi anda sebagai manager…mereka yg membela-belain hidup dikontrakan yg kadang pengap,makan seadanya dan ngirit. 

Tapi pernakah kita memikirkan membuat hidup staf yg susah tersebut hidup layak? Atau biarkan saja itu sudah nasib mereka sebagai orang bawah…yg tidak pernah makan tempat kuliah?

Sebenarnya masih ada juga para manager yg berbudi luhur,mensyukuri kesuksesan dengan berbagai. Membuat kebijaksanaan perusahaan berbasis perduli terhadap semua staf. Bagaimana pun semua adalah team work,layak menikmati keuntungan secara proporsional. Kalau anda sukses,bermobil bagus,,,itu bukan semata kehebatan anda…yg diatas (TUHAN) harus juga diingat. Sekali lagi anda hanya seonggok daging hidup tanpa staf2 yg loyal dan ridho TUHAN. Camkanlah…

Manajemen asal jalan….

Itulah kesan saya mengamati beberapa perusahaan Indonesia yg dahulu begitu mengesankan, tetapi ternyata sekarang sebagian perusahaan2 itu hanya tinggal nama besar saja sedang kan didalamnya sudah terjadi perubahan struktur manajemen yg benar-benar signifikan….artinya manajer pemegang tampuk pimpinan dahulu sudah berganti dengan manajer-manajer muda yg kurang begitu berpengalaman dan mereka menaiki jenjang pimpinan karena faktor hoki dan nasib baik.
Para manajer pendahulu memulai reputasi mereka benar2 dari masa susah…dimana karena tuntutan persaingan pasar para pendahulu mempelajari proses produksi dari hulu sampai hilir,sehingga mereka benar-benar tahu cara menganalisa dan solve problem dilapangan. dan para manajer pendahulu tahu benar cara memotivasi bawahan yg ada dilapangan sehingga mereka memiliki skill yg bisa diandalkan. Para manajer tempo dulu mempunyai keahlian lapangan yg mumpuni, mempunyai kemampuan membuat konsep untuk memenej semua sumber daya yg ada. Mulai dari manusia, bahan baku dan semua sumber dan bisa meningkatkan effesiensi melalui evaluasi yg terus menerus…sampai akhirnya ada pentargetan “zero defect” untuk semua proses yg dilakukan selama produksi.
Perkembangan terakhir yg nampak sudah bergeser…para manajer muda hanya meneruskan konsep yg ada diatas kertas, mereka tak perduli dengan kesulitan yg ada dilapangan, mereka enggan turun kelapangan mencari tahu menurunnya effesiensi. Yg jelas mereka tak cukup memiliki skill untuk mengevaluasi kendala tehnis dilapangan. Meeting bulanan atau mingguan tetap jalan secara rutin, tetapi mereka tak menemukan akar permasalahan. karena manajerial skill sebenarnya bisa mereka peroleh apabila mereka secara terus menerus beradaptasi dengan lapangan…dengan mesin dan dengan para pelaksana lapangan.
Akibat dari kegagalan para manajer muda memahami kondisi lapangan , akhirnya bisa kita lihat para tenaga lapangan menghandle mesin produksi secara autodidak….tanpa basic yg benar dalam mengoperasikan mesin. Tanpa pembimbing ahli dalam bidang mesin yg dioperasikan dan para operator mesin menjalankan tugas mereka dengan improvisasi seadanya…ujung2nya maka effesiensi mesin akan drop dan para share holder terbelalak ketika margin perusahaan menurun drastis.
Satu hal yg tidak dipahami para manajer muda yaitu bagaimana memenej suatu perusahaan secara benar dan total, mereka hanya melihat suatu proses produksi dari “tugas individu” dan “target per divisi”…mereka tak pernah memperlakukan mesin secara benar. Yg ada dipikiran mereka hanya “target pengiriman” dan “target output”.
Mungkin istilah preventif maintenance dibuang jauh2 dari kosa kata mereka. Skill operator dipikir sambil lalu. Mereka mungkin berfikir masing2 digaji untuk tugas masing2….fungsi supervisi mungkin hanya dipahami secara dangkal.
Konsep “Kaizen” yg dimiliki Jepang mungkin tak pernah terpikir untuk diadopsi untuk mengatasi masalah besar yg sedang dihadapi sekarang…

Tandem 2

Tandem 2Siapa sangka saya dapat foto seperti ini lagi. Forklift tandem..kadang memang tidak bisa terhindarkan kalau kerjaan memang membutuhkan akrobat forklift.

Kalau saja saya gak hobby bawa kamera..tak akan dapat moment langka ini………

PP Printed cup di Indonesia

hasil-omsoa3Beberapa tahun terakhir ini persaingan PP Cup di  AMDK begitu ketat, mulai dari perusahaan besar yg menggunakan mesin Europah sampai perusahaan kecil yg mencoba bersaing dengan mesin2 buatan Asia. Dan hasilnya..suatu saat harga cup jatuh diharga terendah karena semua perusahaan cup saling banting harga, belum lagi  banyak yg kelimpungan ketika harga material dunia naik karena effek dari kenaikan minyak dunia.

Tapi kali ini tipisnya margin di PP Cup untuk AMDK  bisa dicarikan way out…jalan keluarnya adalah cup didesain menjadi printed cup.Ini sejalan  dengan berkembangnya air minum yg diberi rasa bermacam-macam, mulai rasa jeruk,rasa apple dll. Bukan itu saja kemasan PP Cup tidak tampil apa adanya…kini menjadi lebih menarik dan kadang meriah dengan adanya desain printing yg begitu bervariasi.

Hanya beberapa perusahaan yg berani menerjunkan diri didunia printed cup…..ini dikarenakan karena investasi tambahan yg harus mereka lakukan,yaitu penambahan mesin printing offset . Selain itu kemungkinan ada yg tidak yakin mereka bisa masuk ke pasar tersebut yg relatif baru dan memerlukan pengelaman tambahan dibidang desain grafis. dan mereka juga harus mencari tenaga operator mesin printing yg siap terjun dimedan persaingan kwalitas produk printed cup.

Tapi terlepas dari kendala itu semua keberanian management untuk terjun di dunia printed cup tak dimiliki banyak perusahaan walau margin printed cup lebih menjanjikan dari cup biasa (transparan).

Perlu juga diketahui….hanya beberapa merk/brand printing offset yg saat ini bersaing dipasaran PP cup. semua brand europa…..untuk brand asia penulis tidak begitu tahu…….maklum kuper (kurang pergaulan)…

Investasi milyaran,manajemen murahan

Kasar banget judul nya ya? secara tidak disadari oleh investor banyak yg melakukan hal seperti itu. Para owner yg berduit banyak dalam berinvestasi hanya melihat hasil akhir dari investasinya, artinya yg penting output/omset tiap bulan tercapai..pernik-pernik pengaturan dilapangan diserahkan oleh staff lapangan yg dianggap pengalaman atau mampu.

Kalau ada effesiensi produksi drop…tinggal teriak saja “kenapa ini bisa terjadi ?” panggil agen untuk evaluasi dan cari solusi !…para manager pun tidak mau pusing..banyak yg harus mereka urusi tidak hanya satu mesin tapi satu atau beberapa pabrik…(tapi ada juga yg hanya berteriak di telephone…tanpa mau beranjak dari tempat duduk untuk mengevaluasi apa kekurangan yg ada dilapangan). Tenaga maintenance dan produksi dibatasi untuk menghindari cost ..yg penting output mesin tetap tinggi.

Effesiensi hanya dilihat dari laporan diatas kertas, pada hal banyak yg harus dilakukan agar effesiensi berjalan disemua lini. Coba evaluasi : Apakah maintenance berjalan dengan baik dan dilakukan secara periodik? Apakah jajaran produksi dan maintenance cukup memiliki skill dan cukup staff pelaksana nya untuk menjalankan  operasional dilapangan ? Pada umumnya plan yg baik bisa dilihat dari kondisi dilapangan sekitar mesin. Apakah semua berjalan cukup baik dan sempurna? bisa kita lihat dari kebersihan mesin, penataan waste material dan hasil produksi…juga adanya bagian kebersihan dan staff maintenance yg bekerja secara effektif.

Pabrik dengan kondisi berantakan biasanya banyak kita temui di home industri, tapi semua itu juga tergantung siapa yg memanage dipabrik tersebut. Kalau manager cara hidupnya bersih dan rapi saya yakin dia tidak akan betah melihat kondisi pabrik berantakan. Coba saja lihat negara yg sudah maju industrinya…dimana kebersihan sudah mendarah daging, sekecil apapun pabrik mereka akan tetap tertata rapi dan bersih. Dan saya yakin ini berefek pada perawatan mesin yg pasti lebih baik,sehingga kondisi mesin akan terjaga. Automatis effesiensi mesin dan produksi akan selalu tinggi.

Employ atau tenaga skill dituntut tidak hanya pinter  dalam mengatasi masalah pabrik dan mesin, mental juga harus baik agar punya selera yg bagus dalam memanage pabrik/menata pabrik. Kalau kita punya selera kebersihan dan kerapian…tidak sulit membedakan mana pabrik yg bagus dan mana pabrik jorok. 

Semoga ini bisa menjadi  sentilan, semua berawal dari kebersihan dan kerapian untuk mencapai effesiensi yg bagus..menurunkan cost spare part, mengurangi down time mesin yg tinggi.

Tandem…..

tandemfork Ini kejadian langka..walau kita sering unloading mesin , tapi biasanya tidak pernah harus memaksa forklift harus gendongan sperti diatas. Tapi ini bisa terjadi kalau membongkar mesin dari kontainer ukuran 40 feet. Dimana menarik mesin dengan kawat baja panjang juga mengalami kendala. Akhirnya mau tidak mau kita masuk kan forklift kecil kedalam kontainer. Tapi diperlukan driver yg cukup akhli untuk tugas yg satu ini. Kalau tidak resikonya yg digendong (tandem) akan terguling jatuh.

Jati wibowoApa lagi maksud judul diatas? jangan kaget ini tak lepas dari profile teman satu ini. 

Namanya Jati Wibowo, sekarang masih aktif di salah satu perusahaan AMDK di daerah Sukabumi. Pengalaman cukup lama di Thermoforming machine..jadi sudah tidak diragukan lagi kemampuannya memproduksi Cup PP. 

Dan yg paling menarik adalah lingkungan kerja yg digawangi oleh beliau yg satu ini  terutama disekitar mesin,kondisinya sangat menyenang kan…mesin selalu bersih dibanding rata2 customer yg mempunyai mesin yg sejenis. Prinsipnya mesin yg selalu bersih pasti ditangani dan dikelola secara effektif…ada orang/staf dilapangan  yg secara routine bertugas menjaga keadaan cat mesin agar selalu bersih sepertti mesin masih baru. Apalagi cup AMDK termasuk kemasan untuk beverage/food…jadi harus diberlakukan standart untuk food grade…always bersih.

Dampak lain, suasana kerja jadi lebih enak kalau lingkungan produksi bersih. dan ini tak lepas dari mental para pelakunya (terutama bos yg satu ini) yg sudah menanamkan akan adanya kebersihan sejak awal karyawan bergabung diperusahaan tersebut.

Lebih jauh tentang kebersihan bisa berdampak ke sistem prefentive maintenance, mesin tidak nampak belepotan oil atau grease. dan perubahan “warna grease” yg mengalir secara automatis akan bisa mendeteksi adanya keausan dibagian yg bergerak. Ini sudah dibuktikan dilapangan…adanya friksi yg tidak wajar menyebabkan warna grease yg tadinya cerah jadi agak gelap.

Kondisi seperti diatas kadang susah diterapkan diperusahaan yg tidak memiliki komitmen soal kebersihan…walaupun diperusahaan food yg besar hal itu sudah biasa.

Saya sebagai pelaku dilapangan yg sering menjumpai mesin2 produksi memberi acungan jempol untuk bos satu ini…..salut bos.