Complicated….itulah kadang yg dijumpai dilapangan. Irama kerja yg tidak sinkron dan emosi yg tidak bisa dikendalikan akan membuat seseorang jadi stress berkepanjangan. 

Kalau kita diposisi decision maker…..maka tugas pertama seharusnya membuat suasana kerja nyaman dan harmonis satu sama lain. Tapi kalau kita pada posisi yg naggung maka ketidak jelasan suatu kebijaksanaan akan membuat benturan2 sesama level atau dengan level diatas kita.

Kadang sebuah manajemen membuat suatu diskriminasi antara level lapangan dan level staf kantoran….artinya ada pengelompokan antara staf yg hanya kerjanya diatas meja tok…dan staf yg banting tulang dilapangan menuntaskan segala permasalahan berat di mesin/produksi. 

Akhirnya….manajemen seperti ini akan memunculkan perasaan diskriminasi dan akan membuat gap yg seharus nya tidak boleh ada dalam suatu perusahaan. Makanya seorang manager yg baik seharusnya bisa menyatukan staf administratif dan staf produksi/lapangan…juga berfikir bijak dalam mengambil keputusan..menjaga hati para stafnya, bertindak layaknya orang tua yg adil pada semua stafnya.

Manager yg tidak mau tahu itu semua paling cocok untuk memegang perusahaan yg full robot. Tidak perlu memikirkan like atau dislike…

The wisdom manager akan membawa perusahaan yg dipimpinnya layak nya kelompok orchestra yg membawakan music yg penuh harmony….tidak ada nada sumbang…atau nada falsh yg dikeluarkan oleh para staf ya….karena rule yg dipakai adalah jelas.

Para manager sebagai kumpulan pribadi yg masing2 punya ambisi selayaknya juga tidak boleh egois…kalau ingin harmony yg bagus maka kekompakan tenggang rasa perlu dijunjung tinggi. Menciptakan suasana like and dislike antara staf akan memperburuk performa perusahaan.

Contohlah perusahaan2 negara maju seperti Jepang. Yg bisa menciptakan motto kerja yg senada…..punya system management seperti Kaizen yg terkenal itu. Tidak ada exploitasi manusia atas manusia sebagai karyawan (ini hanya dimiliki oleh sistem feodal/penjajah)…malah menciptakan system kerja yg baik, harmonis dan nyaman bagi staf dilapangan…coffe break 2 kali dalam sehari masih merupakan mimpi bagi karyawan di Indonesia….tapi tidak bagi mereka yg kerja di perusahaan Jepang.

Kalau para manager sebagai orang yg dianggap “pintar”…seharusnya bukan effesiensi saja yg menjadi target….kesejahteraan dan kekompakan team kerja yg harus juga dibina.( Dari pengalaman saya…pernah juga saya jumpai manager2 bagus yg sangat perduli dengan segala hal…memperlakukan semua staf secara layak dan baik)