Itulah kesan saya mengamati beberapa perusahaan Indonesia yg dahulu begitu mengesankan, tetapi ternyata sekarang sebagian perusahaan2 itu hanya tinggal nama besar saja sedang kan didalamnya sudah terjadi perubahan struktur manajemen yg benar-benar signifikan….artinya manajer pemegang tampuk pimpinan dahulu sudah berganti dengan manajer-manajer muda yg kurang begitu berpengalaman dan mereka menaiki jenjang pimpinan karena faktor hoki dan nasib baik.
Para manajer pendahulu memulai reputasi mereka benar2 dari masa susah…dimana karena tuntutan persaingan pasar para pendahulu mempelajari proses produksi dari hulu sampai hilir,sehingga mereka benar-benar tahu cara menganalisa dan solve problem dilapangan. dan para manajer pendahulu tahu benar cara memotivasi bawahan yg ada dilapangan sehingga mereka memiliki skill yg bisa diandalkan. Para manajer tempo dulu mempunyai keahlian lapangan yg mumpuni, mempunyai kemampuan membuat konsep untuk memenej semua sumber daya yg ada. Mulai dari manusia, bahan baku dan semua sumber dan bisa meningkatkan effesiensi melalui evaluasi yg terus menerus…sampai akhirnya ada pentargetan “zero defect” untuk semua proses yg dilakukan selama produksi.
Perkembangan terakhir yg nampak sudah bergeser…para manajer muda hanya meneruskan konsep yg ada diatas kertas, mereka tak perduli dengan kesulitan yg ada dilapangan, mereka enggan turun kelapangan mencari tahu menurunnya effesiensi. Yg jelas mereka tak cukup memiliki skill untuk mengevaluasi kendala tehnis dilapangan. Meeting bulanan atau mingguan tetap jalan secara rutin, tetapi mereka tak menemukan akar permasalahan. karena manajerial skill sebenarnya bisa mereka peroleh apabila mereka secara terus menerus beradaptasi dengan lapangan…dengan mesin dan dengan para pelaksana lapangan.
Akibat dari kegagalan para manajer muda memahami kondisi lapangan , akhirnya bisa kita lihat para tenaga lapangan menghandle mesin produksi secara autodidak….tanpa basic yg benar dalam mengoperasikan mesin. Tanpa pembimbing ahli dalam bidang mesin yg dioperasikan dan para operator mesin menjalankan tugas mereka dengan improvisasi seadanya…ujung2nya maka effesiensi mesin akan drop dan para share holder terbelalak ketika margin perusahaan menurun drastis.
Satu hal yg tidak dipahami para manajer muda yaitu bagaimana memenej suatu perusahaan secara benar dan total, mereka hanya melihat suatu proses produksi dari “tugas individu” dan “target per divisi”…mereka tak pernah memperlakukan mesin secara benar. Yg ada dipikiran mereka hanya “target pengiriman” dan “target output”.
Mungkin istilah preventif maintenance dibuang jauh2 dari kosa kata mereka. Skill operator dipikir sambil lalu. Mereka mungkin berfikir masing2 digaji untuk tugas masing2….fungsi supervisi mungkin hanya dipahami secara dangkal.
Konsep “Kaizen” yg dimiliki Jepang mungkin tak pernah terpikir untuk diadopsi untuk mengatasi masalah besar yg sedang dihadapi sekarang…