Kasar banget judul nya ya? secara tidak disadari oleh investor banyak yg melakukan hal seperti itu. Para owner yg berduit banyak dalam berinvestasi hanya melihat hasil akhir dari investasinya, artinya yg penting output/omset tiap bulan tercapai..pernik-pernik pengaturan dilapangan diserahkan oleh staff lapangan yg dianggap pengalaman atau mampu.

Kalau ada effesiensi produksi drop…tinggal teriak saja “kenapa ini bisa terjadi ?” panggil agen untuk evaluasi dan cari solusi !…para manager pun tidak mau pusing..banyak yg harus mereka urusi tidak hanya satu mesin tapi satu atau beberapa pabrik…(tapi ada juga yg hanya berteriak di telephone…tanpa mau beranjak dari tempat duduk untuk mengevaluasi apa kekurangan yg ada dilapangan). Tenaga maintenance dan produksi dibatasi untuk menghindari cost ..yg penting output mesin tetap tinggi.

Effesiensi hanya dilihat dari laporan diatas kertas, pada hal banyak yg harus dilakukan agar effesiensi berjalan disemua lini. Coba evaluasi : Apakah maintenance berjalan dengan baik dan dilakukan secara periodik? Apakah jajaran produksi dan maintenance cukup memiliki skill dan cukup staff pelaksana nya untuk menjalankan  operasional dilapangan ? Pada umumnya plan yg baik bisa dilihat dari kondisi dilapangan sekitar mesin. Apakah semua berjalan cukup baik dan sempurna? bisa kita lihat dari kebersihan mesin, penataan waste material dan hasil produksi…juga adanya bagian kebersihan dan staff maintenance yg bekerja secara effektif.

Pabrik dengan kondisi berantakan biasanya banyak kita temui di home industri, tapi semua itu juga tergantung siapa yg memanage dipabrik tersebut. Kalau manager cara hidupnya bersih dan rapi saya yakin dia tidak akan betah melihat kondisi pabrik berantakan. Coba saja lihat negara yg sudah maju industrinya…dimana kebersihan sudah mendarah daging, sekecil apapun pabrik mereka akan tetap tertata rapi dan bersih. Dan saya yakin ini berefek pada perawatan mesin yg pasti lebih baik,sehingga kondisi mesin akan terjaga. Automatis effesiensi mesin dan produksi akan selalu tinggi.

Employ atau tenaga skill dituntut tidak hanya pinter  dalam mengatasi masalah pabrik dan mesin, mental juga harus baik agar punya selera yg bagus dalam memanage pabrik/menata pabrik. Kalau kita punya selera kebersihan dan kerapian…tidak sulit membedakan mana pabrik yg bagus dan mana pabrik jorok. 

Semoga ini bisa menjadi  sentilan, semua berawal dari kebersihan dan kerapian untuk mencapai effesiensi yg bagus..menurunkan cost spare part, mengurangi down time mesin yg tinggi.